HARI MALARIA SEDUNIA 2017

Apa itu Malaria?
Malaria adalah penyakit yang menyebar melalui gigitan nyamuk yang sudah terinfeksi parasit. Infeksi malaria bisa terjadi hanya dengan satu gigitan nyamuk. Jika tidak ditangani dengan benar, penyakit ini bisa menyebabkan kematian. Malaria jarang sekali menular secara langusng dari satu orang ke orang lainnya. 
Penyakit ini bisa menular jika terjadi kontak langsung dengan darah penderita. Janin di dalam kandungan juga bisa terinfeksi malaria karena tertular dari darah sang ibu. Gejala malaria mulai terlihat dalam waktu 1 – 3 minggu setelah infeksi. Namun, ada beberapa kasus di mana gejala malaria baru muncul setelah satu tahun. Pada kasus ini, parasit biasanya dalam keadaan tertidur di dalam tubuh pasien.
Penderita Malaria di Indonesia
Indonesia bersama negara-negara lain di seluruh dunia bergabung dalam sebuah komitmen global yakni Millenium Development Goals (MDGs) untuk memberantas sejumlah penyakit, salah satunya malaria.  Angka kejadian malaria pada suatu wilayah ditentukan dengan Annual Parasite Incidence (API) per tahun. API sendiri merupakan jumlah kasus positif malaria per 1.000 penduduk setiap tahunnya.
Program MDGs ini terus menunjukkan keberhasilan, yang ditunjukkan dengan API malaria di Indonesia yang terus mengalami penurunan sejak 2011 hingga 2015. Pada tahun 2011, terdapat 1.75 kasus malaria per 1.000 penduduk, sedangkan pada tahun 2015, angka menurun menjadi 0.85 kasus malaria per 1.000 penduduk. Meskipun telah mengalami penurunan yang cukup signifikan, Indonesia masih belum bebas dari malaria, terutama di Indonesia bagian Timur. Wilayah seperti Papua, NTT, Maluku, dan Bengkulu merupakan penyumbang terbanyak angka kejadian malaria di Indonesia.
Penyebab Malaria
Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium. Sebetulnya ada banyak jenis parasit Plasmodium, tapi hanya lima jenis yang menyebabkan malaria pada manusia. Parasit Plasmodium hanya disebarkan oleh nyamuk Anopheles betina. Dua jenis parasit yang umum di Indonesia adalah Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax. Gigitan nyamuk malaria lebih sering terjadi pada malam hari. Setelah terjadinya gigitan, parasit akan masuk ke dalam aliran darah. Penyebaran penyakit malaria juga bisa terjadi melalui transfusi darah atau melalui pemakaian jarum suntik secara bergantian. Meski kasus ini jarang sekali terjadi, Anda tetap harus berhati-hati.
Gejala Utama Malaria
Gejala malaria biasanya akan muncul antara satu sampai dua minggu setelah tubuh terinfeksi. Gejala juga bisa muncul setahun setelah gigitan nyamuk, namun kasus ini jarang terjadi. Gejala-gejala malaria Malaria menampilkan beberapa gejala utama, di antaranya:


·         Demam tinggi
·         Sakit kepala
·         Muntah
·         Diare
·         Nyeri otot
·         Mual
·         Kejang-kejang
·         Ada darah pada tinja
·         Keringat berlebih
·         Panas dingin sedang hingga parah
·         Kadar gula darah menurun



Jika Anda sudah terlanjur mengalami gejala-gejala malaria, segera temui dokter agar bisa dilakukan diagnosis dan penanganan secepatnya. Malaria dapat didiagnosis dengan mudah melalui tes darah yang sederhana.

Komplikasi Malaria

Jika tidak didiagnosa dan diobati dengan benar, pasien beresiko mengalami komplikasi yang lebih serius, seperti:
·         Malaria serebral – Dikarakteristikan dengan sumbatan pada pembuluh darah kecil yang memasok darah ke otak. Jika tidak dicegah, pasien dapat mengalami kejang-kejang, kerusakan otak permanen, bahkan koma.
·         Anemia parah – Infeksi malaria dapat membuat sel darah merah tidak dapat mengirimkan oksigen yang cukup ke seluruh tubuh. Kurangnya oksigen dapat membuat penderita malaria merasa lemas, rasa kantuk berlebih, dan pingsan.
·         Malaria kongenital – Ini terjadi saat perempuan yang sedang mengandung terinfeksi malaria dan menurunkan penyakitnya ke bayi dalam kandungan.
·         Pulmonary edema – Ini terjadi saat terjadi penumpukan cairan pada paru-paru dan menyebabkan penderita malaria sulit bernapas.
·         Gagal organ – Ini terjadi saat parasit menyebabkan kerusakan parah pada organ vital pasien, seperti ginjal dan hati.

Pencegahan Malaria

Menghindari diri agar tidak tergigit nyamuk adalah cara terbaik agar tidak tertular malaria. Beberapa cara lain yang bisa dilakukan adalah:
§  Memakai kelambu berinsektisida untuk menutupi ranjang.
§  Menggunakan pakaian atau selimut yang bisa menutupi kulit tubuh.
§  Membersihkan bak mandi dan menabur serbuk abate untuk membasmi jentik-jentik nyamuk.
§  Menyingkirkan atau menutup genangan air yang berpotensi menjadi sarang jentik-jentik nyamuk.
§  Memakai losion anti serangga. Losion yang paling efektif adalah yang mengandung DEET atau diethyltoluamide.
§  Memakai obat nyamuk bakar atau semprot secara teratur.
§  Melakukan fogging atau pengasapan secara teratur di lingkungan tempat tinggal.

Pengobatan Malaria

Beberapa jenis penyakit malaria terkadang resisten terhadap obat-obatan tertentu. Contohnya, obat antimalaria chloroquine terbukti tidak efektif dalam menangani kasus malaria di Indonesia karena jenis parasit di Indonesia telah kebal terhadap obat ini. Untuk masalah ini, kombinasi obat malaria akan disarankan oleh dokter. Jika malaria berada pada tingkat yang parah, obat akan diberikan melalui infus dan dilakukan di rumah sakit.
Untuk menangani malaria yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum, WHO membuat suatu regimen terapi yang disebut dengan artemisin-based combination therapies (ACT), yakni:
§  Kombinasi artemether  dan lumefantrine atau
§  Kombinasi artesunate dan amodiaquine atau
§  Kombinasi artesunate dan mefloquine atau
§  Kombinasi dihydroartemisinin dan piperaquine atau
§  Kombinasi artesunate + sulfadoxine + pyrimethamine.
Pengobatan ini harus diberikan setidaknya selama 3 hari. Sedangkan untuk malaria akibat Plasmodium vivax, pengobatan yang disarankan adalah dengan menggunakan golongan klorokuin pada daerah yang masih belum resisten klorokuin. Namun pada daerah yang telah resisten klorokuin, pengobatan yang disarankan adalah dengan ACT.
·         Obat-obatan Antimalaria pada Wanita Hamil

Risiko terjadinya kasus malaria yang parah akan meningkat pada penderita yang sedang hamil. Bayi dan sang ibu bisa mengalami komplikasi yang serius. Beberapa obat-obatan antimalaria tidak cocok untuk wanita hamil karena potensi efek sampingnya baik bagi sang ibu maupun bayinya.